Sabtu, 05 Desember 2009

USMAN IBNU AFFAN DAN ALI IBNU ABI THALIB

USMAN IBNU AFFAN DAN ALI IBNU ABI THALIB
Pendahuluan
Khalifah Rasyidah merupakan para pemimpin ummat Islam setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam wafat, yaitu pada masa pemerintahan Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, Radhiallahu Ta’ala anhu ajma’in dimana sistem pemerintahan yang diterapkan adalah pemerintahan yang islami karena berundang-undangkan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam tidak meninggalkan wasiat tentang siapa yang akan menggantikan beliau Shallallahu ‘Alaihi wasallam sebagai pemimpin politik umat Islam setelah beliau Shallallahu ‘Alaihi wasallam wafat. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wasallam nampaknya menyerahkan persoalan tersebut kepada kaum muslimin sendiri untuk menentukannya. Karena itulah, tidak lama setelah beliau Shallallahu ‘Alaihi wasallam wafat; belum lagi jenazahnya dimakamkan, sejumlah tokoh Muhajirin dan Anshar berkumpul di balai kota Bani Sa'idah, Madinah. Mereka memusyawarahkan siapa yang akan dipilih menjadi pemimpin. Musyawarah itu berjalan cukup alot karena masing-masing pihak, baik Muhajirin maupun Anshar, sama-sama merasa berhak menjadi pemimpin umat Islam. Namun, dengan semangat ukhuwah Islamiyah yang tinggi, akhirnya, Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu terpilih. Rupanya, semangat keagamaan Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu mendapat penghargaan yang tinggi dari umat Islam, sehingga masing-masing pihak menerima dan membaiatnya.
Masa Utsman Ibn ‘Afan ra. ( 23-35 H / 644-655 M)
Di masa pemerintahan Utsman (644-655 M), Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhodes, dan bagian yang tersisa dari Persia, Transoxania, dan Tabaristall berhasil direbut. Ekspansi Islam pertama berhenti sampai di sini. Pemerintahan Usman berlangsung selama 12 tahun, pada paruh terakhir masa kekhalifahannya muncul perasaan tidak puas dan kecewa di kalangan umat Islam terhadapnya.
Kepemimpinan Usman memang sangat berbeda dengan kepemimpinan Umar. Ini mungkin karena umumnya yang lanjut (diangkat dalam usia 70 tahun) dan sifatnya yang lemah lembut. Akhirnya pada tahun 35 H 1655 M, Usman dibunuh oleh kaum pemberontak yang terdiri dari orang-orang yang kecewa itu.
Salah satu faktor yang menyebabkan banyak rakyat kecewa terhadap kepemimpinan Usman adalah kebijaksanaannya mengangkat keluarga dalam kedudukan tinggi. Yang terpenting diantaranya adalah Marwan ibn Hakam.
Dialah pada dasarnya yang menjalankan pemerintahan, sedangkan Usman hanya menyandang gelar Khalifah. Setelah banyak anggota keluarganya yang duduk dalam jabatan-jabatan penting, Usman laksana boneka di hadapan kerabatnya itu. Dia tidak dapat berbuat banyak dan terlalu lemah terhadap keluarganya. Dia juga tidak tegas terhadap kesalahan bawahan. Harta kekayaan negara, oleh karabatnya dibagi-bagikan tanpa terkontrol oleh Usman sendiri.
Meskipun demikian, tidak berarti bahwa pada masanya tidak ada kegiatan-kegjatan yang penting. Usman berjasa membangun bendungan untuk menjaga arus banjir yang besar dan mengatur pembagian air ke kota-kota. Dia juga membangun jalan-jalan, jembatan-jembatan, masjid-masjid dan memperluas masjid Nabi di Madinah.
Penulisan Al Quran dilakukan kembali pada masa sayidina Utsman ra. Ini terjadi pada tahun 25 H. Dan al Quran yang kita pegang saat ini adalah mushaf Utsman.


Masa Ali Ibn Abi Thalib kwh. ( 35-40 H / 655-660 M)
Setelah Utsman wafat, masyarakat beramai-ramai membaiat Ali ibn Abi Thalib sebagai khalifah. Ali memerintah hanya enam tahun. Selama masa pemerintahannya, ia menghadapi berbagai pergolakan. Tidak ada masa sedikit pun dalam pemerintahannya yang dapat dikatakan stabil. Setelah menduduki jabatan khalifah, Ali memecat para gubernur yang diangkat oleh Utsman. Dia yakin bahwa pemberontakan-pemberontakan terjadi karena keteledoran mereka. Dia juga menarik kembali tanah yang dihadiahkan Utsman kepada penduduk dengan menyerahkan hasil pendapatannya kepada negara, dan memakai kembali sistem distribusi pajak tahunan diantara orang-orang Islam sebagaimana pernah diterapkan Umar.
Tidak lama setelah itu, Ali ibn Abi Thalib menghadapi pemberontakan Thalhah, Zubair dan Aisyah. Alasan mereka, Ali tidak mau menghukum para pembunuh Utsman, dan mereka menuntut bela terhadap darah Utsman yang telah ditumpahkan secara zalim. Ali sebenarnya ingin sekali menghindari perang. Dia mengirim surat kepada Thalhah dan Zubair agar keduanya mau berunding untuk menyelesaikan perkara itu secara damai. Namun ajakan tersebut ditolak. Akhirnya, pertempuran yang dahsyat pun berkobar. Perang ini dikenal dengan nama Perang Jamal (Unta), karena Aisyah dalam pertempuran itu menunggang unta, dan berhasil mengalahkan lawannya. Zubair dan Thalhah terbunuh ketika hendak melarikan diri, sedangkan Aisyah ditawan dan dikirim kembali ke Madinah.
Bersamaan dengan itu, kebijaksanaan-kebijaksanaan Ali juga mengakibatkan timbulnya perlawanan dari gubernur di Damaskus, Mu’awiyah, yang didukung oleh sejumlah bekas pejabat tinggi yang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaan. Setelah berhasil memadamkan pemberontakan Zubair, Thalhah dan Aisyah, Ali bergerak dari Kufah menuju Damaskus dengan sejumlah besar tentara. Pasukannya bertemu dengan pasukan Mu’awiyah di Shiffin. Pertempuran terjadi di sini yang dikenal dengan nama perang shiffin. Perang ini diakhiri dengan tahkim (arbitrase), tapi tahkim ternyata tidak menyelesaikan masalah, bahkan menyebabkan timbulnya golongan ketiga, al-Khawarij, orang-orang yang keluar dari barisan Ali. Akibatnya, di ujung masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib umat Islam terpecah menjadi tiga kekuatan politik, yaitu Mu’awiyah, Syi’ah (pengikut) Ali, dan al-Khawarij (oran-orang yang keluar dari barisan Ali). Keadaan ini tidak menguntungkan Ali. Munculnya kelompok al-khawarij menyebabkan tentaranya semakin lemah, sementara posisi Mu’awiyah semakin kuat. Pada tanggal 20 ramadhan 40 H (660 M), Ali terbunuh oleh salah seorang anggota Khawarij.

Nepotisme dan Embrio Perpecahan Ummat Islam

sungguhpun pemilihan khalifah ke-3 mengalami kemajuan beberapa langkah, satu hal yang patut dicatat adalah bahwa prosesi pemilihan tersebut mulai menyemai unsur tribalisme (kesukuan) dalam kepentingan politik. Faktor semacam ini jelas sangat manusiawi dan ditoleransi dalam format demokrasi. Namun harus diakui bahwa kejadian tersebut memberikan indikasi semakin menguatnya suhu politik umat Islam dari hari ke hari. Ini sangat terasa pada enam tahun terakhir masa pemerintahannya. Usman ibn Affan sudah lemah dalam memimpin, dan usianya pun sudah lanjut. Bahkan pemerintahannya sudah dikendalikan oleh Marwan ibn Al-Hakam, sekretaris khalifah saat itu, yang coraknya lebih condong ke nepotisme. Pada saat itu, nepotisme dan kesenjangan penguasa dengan rakyat menyulut “bom waktu” bagi meletusnya gejolak sosial, gejolak sosial akhirnya memuncak pada aksi demonstrasi besar-besaran dari kawasan Mesir, Kufah, Bashrah, dan Makkah untuk menuntut penyelesaian atas berbagai ketimpangan sosial yang terjadi, hingga akhirnya Khalifah Usman terbunuh di tengah para demonstran pada tahun 35 H.
Suasana vakum kekhilafahan menyebabkan massa segera menentukan pilihan mereka melalui bai’at langsung kepada Ali ibn Abi Thalib. Kegeniusan Ali rupanya menggerakkan tekadnya untuk membersihkan semua pejabat struktural yang tidak layak, termasuk Mu’awiyah ibn Abi Sufyan, Gubernur Syam. Keputusan ini, justru belum memulihkan suasana karena “laskar-laskar” Bani Umayyah yang mendapat fasilitas jabatan pada masa Khalifah Usman semakin merekatkan barisan untuk menentang Khalifah Ali. Mereka menuntut segera diadilinya pembunuh Khalifah Usman. Aksi ini juga dipelopori Aisyah, Zubair, dan Thalhah dari Makkah, Kufah, dan Bashrah. Akhirnya pecahlah perang Jamal antara pasukan Khalifah dan kelompok Aisyah, Thalhah dan Zubair yang berakhir dengan kemenangan pihak Khalifah Ali. Babak berikutnya, pasukan Khalifah Ali harus menghadapi pasukan Mu’awiyah di Shiffin. Perang ini sebenarnya hampir dimenangkan oleh pihak Ali. Namun, karena kecerdikan Mu’awiyah yang dimotori oleh Amr ibn Ash, akhirnya perang itu berakhir dengan tahkim atau arbitrase (mengambil keputusan sesudah mendengar kedua belah pihak) yang berujung pada peristiwa “malapetaka nan dahsyat” Al Fitnah Al Kubra (fitnah besar) yang menggoreskan lembaran hitam dalam tarikh Islam.
Di tengah huru-hara politik yang memorak-porandakan persatuan umat Islam tersebut, reaksi kaum Muslim sangat beragam. Faksi-faksi yang bertikai saat itu memberikan angin segar bagi lahirnya banyak partai politik (al-hidzb, firqah). Mula-mula mereka kecewa pada sikap Khalifah Ali yang tidak melanjutkan peperangan serta menerima arbitrase atau tahkim. Mereka kemudian bereaksi keras, memisahkan diri dari Ali. Sehingga mereka kemudian dikenal dengan nama “Khawarij”. Sementara para pendukung setia Khalifah Ali (kelompok tasyayyu’) memproklamasikan diri mereka sebagai kelompok Syi’ah.

Perang Antar Sahabat

Pada masa pemerintahan Usman bin Affan, Ali banyak mengeritik kebijaksanaannya yang dinilai terlalu memperhatikan kepentingan keluarganya (nepotisme). Ali menasihatinya agar bersikap tegas terhadap kaum kerabatnya yang melakukan penyelewengan dengan mengatasnamakan dirinya. Namun, semua nasihat itu tidak diindahkannya. Akibatnya, terjadilah suatu peristiwa berdarah yang berakhir
dengan terbunuhnya Usman.

Kritik Ali terhadap Usman antara lain menyangkut Ubaidillah bin Umar, yang menurut Ali harus dihukum hadd (beberapa jenis hukuman dalam fikih) sehubungan dengan pembunuhan yang dilakukannya terhadap Hurmuzan. Usman juga dinilai keliru ketika ia tidak melaksanakan hukuman cambuk terhadap Walib bin Uqbah yang kedapatan mabuk. Cara Usman memberi hukuman kepada Abu Zarrah juga tidak disetujui Ali.

Usman meminta bantuan kepada Ali ketika ia sudah dalam keadaan terdesak akibat protes dan huru-hara yang dilancarkan oleh orang-orang yang tidak setuju kepadanya. Sebenarnya, ketika rumah Usman dikepung oleh kaum pemberontak, Ali memerintahkan kedua putranya, Hasan dan Husein, untuk membela Usman. Akan tetapi karena pemberontak berjumlah besar dan sudah kalap, Usman tidak dapat diselamatkan.

Segera setelah terbunuhnya Usman, kaum muslimin meminta kesediaan Ali untuk dibaiat menjadi khalifah. Mereka beranggapan bahwa kecuali Ali, tidak ada lagi orang yang patut menduduki kursi khalifah setelah Usman. Mendengar permintaan rakyat banyak itu, Ali berkata, “Urusan ini bukan urusan kalian. Ini adalah
perkara yang teramat penting, urusan tokoh-tokoh Ahl asy-Syura bersama para pejuang Perang Badr.”

Dalam suasana yang masih kacau, akhirnya Ali dibaiat. Pembaiatan dimulai oleh sahabat-sahabat besar, yaitu Talhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’d bin Abi Waqqas, dan para sahabat lainnya. Mereka diikuti oleh rakyat banyak. Pembaiatan dilakukan pada tanggal 25 Zulhijah 33 di Masjid Madinah seperti
pembaiatan para khalifah pendahulunya. Segera setelah dibaiat, Ali mengambil langkah-langkah politik, yaitu:

Memecat para pejabat yang diangkat Usman, termasuk di dalamnya beberapa gubernur, dan menunjuk penggantinya. Mengambil tanah yang telah dibagikan Usman kepada keluarga dan kaum kerabatnya tanpa alasan kedudukan sebagai khalifah sampai terbunuh pada tahun 661. Pemberontakan ketiga datang dari Aliran Khawarij, yang semula merupakan bagian dari pasukan Ali dalam menumpas pemberontakan Mu’awiyah, tetapi kemudian keluar dari barisan Ali karena tidak setuju atas sikap Ali yang menerima tawaran berdamai dari pihak Mu’awiyah. Karena mereka keluar dari barisan Ali, mereka disebut “Khawarij” (orang-orang yang keluar). Jumlah mereka ribuan orang. Dalam keyakinan mereka, Ali adalah amirulmukminin dan mereka yang setuju untuk bertahkim telah melanggar ajaran agama. Menurut mereka, hanya Tuhan yang berhak menentukan hukum, bukan manusia. Oleh sebab itu, semboyan mereka adalah Id hukma ilia bi Allah (tidak ada hukum kecuali bagi Allah). Ali dan sebagian pasukannya dinilai telah berani membuat keputusan hukum, yaitu berunding dengan lawan. Kelompok Khawarij menyingkir ke Harurah, sebuah desa dekat Kufah. Mereka mengangkat pemimpin sendiri, yaitu Syibis bin Rub’it at-Tamimi sebagai panglima angkatan perang dan Abdullah bin Wahhab ar-Rasibi sebagai pemimpin keagamaan. Di Harurah mereka segera menyusun kekuatan untuk menggempur Ali dan orang-orang yang menyetujui tahkim, termasuk di dalamnya Mu’awiyah, Amr bin As, dan Abu Musa al-Asy’ari. Kegagalan Ali dalam tahkim menambah semangat mereka untuk mewujudkan maksud mereka.

Posisi Ali menjadi serba sulit. Di satu pihak, ia ingin menghancurkan Mu’awiyah yang semakin kuat di Syam; di pihak lain, kekuatan Khawarij akan menjadi sangat berbahaya jika tidak segera ditumpas. Akhirnya Ali mengambil keputusan untuk menumpas kekuatan Khawarij terlebih dahulu, baru kemudian menyerang Syam. Tetapi tercurahnya perhatian Ali untuk menghancurkan kelompok Khawarij dimanfaatkan Mu’awiyah untuk merebut Mesir.

Pertempuran sengit antara pasukan Ali dan pasukan Khawarij terjadi di Nahrawan (di sebelah timur Baghdad) pada tahun 658, dan berakhir dengan kemenangan di pihak Ali. Kelompok Khawarij berhasil dihancurkan, hanya sebagian kecil yang dapat meloloskan diri. Pemimpin mereka, Abdullah bin Wahhab ar-Rasibi, ikut terbunuh.

Sejak itu, kaum Khawarij menjadi lebih radikal. Kekalahan di Nahrawan menumbuhkan dendam di hati mereka. Secara diam-diam kaum Khawarij merencanakan untuk membunuh tiga orang yang dianggap sebagai biang keladi perpecahan umat, yaitu Ali, Mu’awiyah, dan Amr bin As. Pembunuhnya ditetapkan tiga orang, yaitu: Abdur Rahman bin Muljam ditugaskan membunuh Ali di Kufah, Barak bin Abdillah at-Tamimi ditugaskan membunuh Mu’awiyah di Syam, dan Amr bin Bakar at-Tamimi ditugaskan pembunuh Amr bin As di Mesir. Hanya Ibnu Muljam yang berhasil menunaikan tugasnya. Ia menusuk Ali dengan pedangnya ketika Ali akan salat subuh di Masjid Kufah. Ali mengembuskan napas terakhir setelah memegang tampuk pimpinan sebagai khalifah selama lebih-kurang 4 tahun.


Epilog Pemerintahan Usman dan Ali

Telah disebutkan bahwa menjelang wafatnya Khalifah Umar Ibnu Khattab, ia membuat team formatur untuk memilih calon khalifah. Akhirnya Usman Ibnu Affan terpilih menjadi khalifah yang ketiga setelah beliau. Dalam sebuah riwayat di sebutkan bahwa Abd al-Rahman ibn ‘Auf sebagai ketua team pelaksanaan pemilihan khalifah, pasca wafatnya Umar ibn Khattab. Umar Ibn Khattab pernah berkata kepada Usman ibn Affan disuatu tempat sebagai berikut:

Jika saya tidak membai’atmu (Usman),maka siapa yang kau usulkan ? ia berkata: “Ali” kemudian ia(Abd al-Rahman ibvn ‘Auf) berkata kepada Ali, jika saya t9idak membai’atmu maka siapa yang engkau bai’at? Ia Menjawab “Usman”. Kemudian Abd Al-Rahman bermusyawarah dengan tokoh-tokoh lainnya. Ternyta mayoritasnya memilih Usman sebagai Khalifah (al-Suyuthi,2001).

Memperhatikan percakapan dari dua sahabat di atas, maka dapat kita menyimpulkan bahwa baik Ali maupun Usman tidak begitu ambisius untuk menjadi khalifah. Justru keduanya saling mempersilahkan untuk menentukan khalifah dengan bermusyawarah. Fakta penting inilah yang sering kabur oleh sebagia sejarawan yang berpandangan bahwa antara kedua menantu Rasulullah itu saling bermusuhan. Padahal kalau kita perhatikan ahli sejarah kebanyakan mereka adalah orang-orang oriantalis, yang memungkin sekali menulis sejarah dengan cara mengambil informasi yang lebih berat kepada negatifnya ketimbang yang positif.
Sebagaimana kita ketahui bahwa Dinasti yang terakhir yang bermusuhan dengan Bani dari pihak Usman (Umayyah) adalah Dinasti Abbasih. Yang sudah tentu merekalah yang menguasai informasi sejarah. Mereka bisa saja memonopoli atau memutar balikkan fakta yang dengan tujuan menjelekkan para Khalifah.

Cacatnya Nilai-nilai Rasyidah Khalifah

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa salah satu hadits nabi ada yang mengatakan bahwa sahabat nabi yang empat yaitu Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali. Mereka adalah calon penghuni surga sebagaimana yang telah dijanjikan oleh nabi dalam haditsnya. Tapi timbul pertanyaan yang bertumpuk-tumpuk dalam benak kita masing-masing setelah Nabi Muhammad SAW. wafat terjadi perpecahan diantara para sahabat apalagi pada masa khalifah Usman ibnu affan dan Khalifah Aliibnu Abi Thalib. Sebagaiman kita tahu bahwa demi kekuasaan mereka rela mengorban saudara seagama dengan mengadakan perang yang kalau kita melihat sejarah seperti ini rasanya malu sekali sengai ummat islam yang mengikuti ajaran merekan pada abad sekarang ini.

Seperti ketika Ali ibn Abi Thalib menghadapi pemberontakan Thalhah, Zubair dan Aisyah. Alasan mereka, Ali tidak mau menghukum para pembunuh Utsman, dan mereka menuntut bela terhadap darah Utsman yang telah ditumpahkan secara zalim. Disini kita bisa menilai bahwa banyak di antara para sahabat yang mengklaim kelompok dan pendapat mereka masing yang paling benar.
Secara garis besar kita
Salah satu faktor yang menyebabkan banyak rakyat berburuk sangka terhadap kepemimpinan Utsman Radhiallahu ‘anhu adalah kebijaksanaannya mengangkat keluarga dalam kedudukan tinggi. Yang terpenting diantaranya adalah Marwan ibn Hakam Rahimahullah. Dialah pada dasarnya yang dianggap oleh orang-orang tersebut yang menjalankan pemerintahan, sedangkan Utsman Radhiallahu ‘anhu hanya menyandang gelar Khalifah. Setelah banyak anggota keluarganya yang duduk dalam jabatan-jabatan penting, Usman Radhiallahu ‘anhu laksana boneka di hadapan kerabatnya itu. Dia tidak dapat berbuat banyak dan terlalu lemah terhadap keluarganya. Dia juga tidak tegas terhadap kesalahan bawahan. Harta kekayaan negara, oleh kerabatnya dibagi-bagikan tanpa terkontrol oleh Usman Radhiallahu ‘anhu sendiri. Itu semua akibat fitnah yang ditebarkan oleh Abdullah bin Saba’.


Kesimpulan

Meskipun begitu banyak kejanggalan yang di lakukan oleh Usman tapi Ustman juga membuat langkah penting bagi umat. Ia memperlebar bangunan Masjid Nabawi di Madinah dan Masjid Al-Haram di Mekah. Ia juga menyelesaikan pengumpulan naskah Quran yang telah dirintis oleh kedua pendahulunya. Ia menunjuk empat pencatat Quran, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin Ash, dan Abdurrahman bin Harits, untuk memimpin sekelompok juru tulis. Kertas didatangkan dari Mesir dan Syria. Tujuh Quran ditulisnya, Masing-masing dikirim ke Mekah, Damaskus, San'a, Bahrain, Basrah, Kufah dan Madinah.
Begitu juga Ali walaupun dalam sejarah kita menemui kalau Ali dan Usman bermusuhan tapi sebenarnya tidak. Mereka justru menjadi korban polotikdan ambisi serta hawa nafsu orang-orang yang berambisi ingin berkuasa sdengan mengatasnamakan Agama Islam. Demikianlah mudah-mudahn dapat bermanfa’at bagi semua. Kita boleh saja tidak percaya pada sejarah tapi kita bias mengambil kebijakan yang baik untuk kehidupan yang akan dating.


Daftar Pustaka

Su’ud, Abu, Islamologi, Jakarta, PT. Rineka Cipta, 2003.
Syalabi, A., Sejarah dan Kebudayaan Islam Jilid 3, Jakarta: Al-Husna Dzikra, 1997.
http://www.cybermq.com/
http://www.kajianislam.com
sumber kutipan : http://ahlulhadist.wordpress.com
M. Karim Abdullah. Sejarah Pemikiran Dan Perdaban Islam. Pustaka.2007

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar