Sabtu, 05 Desember 2009

ISLAM DI INDONESIA DI ZAMAN KOLONIAL

ISLAM DI INDONESIA DI ZAMAN KOLONIAL

Pendahuluan
Membaca Islam Indonesia tak bisa lepas dari bicara tentang sejarah Indonesia yang pernah dijajah oleh Belanda. Mengacu pada kenyataan bahwa sejarah umat Islam Indonesia pernah menghadapi masa kelam sejak zaman penjajahan, Ahmad Baso membahas perjumpaan umat Islam dengan tradisi pencerahan dan kemodernan Eropa yang dibawa oleh penjajah. Dimulai sejak zaman renaissance, negara-negara Eropa mulai melakukan kolonialisasi dan invasi ke negara-negar di luar Eropa termasuk Indonesia. Negara-negara Eropa tidak hanya berkepentingan dengan sumber daya alam, penaklukan tanah dan teritori di daerah jajahannya, namun juga menyebarkan dan melakukan penaklukan pikiran dan budaya. Dalam proses inilah mereka menyebarkan faham rasional, modern dan liberal.
Negara-negara Barat –termasuk Belanda –yang menganut ajaran liberal, dalam aktivitasnya berupaya untuk meliberalkan berbagai lini kehidupan termasuk dalam hal beragama. Agama yang dibawa dan diperkenalkan oleh kolonialisme adalah agama yang tunduk pada kekuasaan dan menjadi kepanjangan tangan penguasa serta bisa menjaga kondusifitas pemerintah kolonial.
Dalam sejarah Islam Indonesia kita mengenal tokoh C. SNOUCK Hurgronje. Dia adalah seorang sarjana Belanda yang penuh kontroversial. Satu sisi SNOUCK adalah tokoh yang mewakili tradisi pencerahan Eropa, namun di sisi lain, sebagai seorang warga Belanda, pada zamannya ia merepresentasikan kuasa kolonial yang eksploitatif dan bertangan besi terhadap rakyat Indonesia. Ia banyak berperan dalam grand design kolonialisasi barat di Indonesia dengan menyebarkan ajaran yang berupaya untuk menyiasati agama agar mudah diatur diadministrasi serta mudah dikontrol sehingga tidak berkembang pada fanatisme. Dengan upayanya ini dia berhasil mengembangkan Islam sebagai agama yang moderat (liberal), dengan banyak menutup gerakan Islam yang mewakili kaum tradisional melalui kelompok-kelompok tarekat. Tarekat dibuat menakutkan dengan dianggap mistik, takhayul dan bid’ah.

 ISLAM DI ZAMAN BELANDA
Wacana yang dikembangkan oleh SNOUCK adalah dengan menghindarkan pemahaman agama sebagai kritik sosial, etika yang dengan cara tersebut membuat umat Islam Indonesia tidak mampu memerankan ajaran Islam secara relevan dengan situasi masyarakat pada saat itu yang sedang di jajah. SNOUCK juga menghindarkan dari pemahaman Islam yang merespon tentang ketimpangan relasi antara penjajah dan yang di jajah. Maka lahirlah Islam pada zaman kolonial Belanda yaitu Islam sebagai agama kerukunan yang akomodatif dan loyal terhadap penguasa dan birokrasi yang cocok untuk kepentingan penguasa dalam mempertahankan tanah kekuasaan.
Dengan menggunakan studi dan teori-teori poskolonial (postcolonial studies), Ahmad Baso mengeksplorasi lebih jauh bagaimana Islam berkembang dalam pergumulan dengan kolonialisme Belanda di Indonesia. Studi poskolonialisme tidaklah mempersoalkan “apa yang terjadi dalam sejarah kolonialisme”. Yang dikaji adalah “apa yang terjadi sesudah kekuasaan kolonialisme hengkang dari daerah jajahannya, dan apa pula yang terjadi kemudian dalam era prakolonialisme”. Menarik masa lalu bukan demi masa lalu, tapi demi memperjelas pada khalayak apa yang terjadi era sekarang, yaitu pada kepentingannya membongkar kekuatan di balik stigma fanatik (terorisme) dan kepentingan di balik moderatisasi (liberalisasi) agama (Islam ). Melalui teori poskolonial, Baso menemukan bahwa pemahaman keberagamaan umat Islam Indonesia dipengaruhi oleh segenap konstruk dan racikan budaya kebudayaan barat yang superior, bahwa dibalik kedigdayaan ilmu pengetahuan dan supremasi peradaban yang mereka miliki, barat mempengaruhi pola pikir dan psikologis umat Islam Indonesia dengan berbagai kepentingannya.
Upaya ini penting dilakukan untuk membaca bahwa sejarah Islam Indonesia tak lepas dari bayang-bayang kepentingan negara-negara barat. Hingga sekarang, hal ini masih membekas bahkan bisa ditemukan dalam berbagai produk hukum yang dihasilkan dengan mengatasnamakan agama. Padahal produk hukum tersebut sarat dengan muatan kepentingan ditengah maraknya liberalisasi agama seperti lahirnya Islam liberal yang merupakan ciri utama bangsa barat.
Buku ini –menurut Ahmad Baso –adalah rintisan awal menulis (ulang) sejarah masa kini, sejarah yang terbentuk bukan karena konfigurasi kekuatan-kekuatan masa kini, melainkan juga oleh konfigurasi kekuatan-kekuatan yang ada pada masa lalu. Pada bagian awal buku ini Ahmad Baso mengeksplorasi dengan menawan dan tajam genealogi studi dan teori-teori poskolonial (postcolonial studies). Mulai dari rujukan studi poskolonial ke Michael Foucault sampai dengan tradisi Marxian. Tidak lupa pula ia menyertakan pembahasan tokoh-tokoh studi poskolonial seperti Lacan, Fanon, dan Edward W. Said.
Pada bagian ini, Ahmad Baso menyertakan perkenalan terhadap studi-studi kontemporer seperti makna studi sejarah, pengertian kebudayaan dan agama sebagai bagian dari objek kajian studi poskolonial, dan juga soal relasi apa yang muncul ketika kolonialisme berakhir dan ditandai dengan era baru, era kemerdekaan, era nation state. Disini ditegaskan bagaimana studi poskolonial membangun dirinya sekaligus menyatakan oposisi terhadap kolonialisme. (hlm. 46-73).
Pada tiga bab selanjutnya, Ahmad Baso lebih jauh mengeksplorasi sejarah perkenalan dan pergumulan Islam dengan kolonialisme. Disini Islam yang dianalisis terfokus pada pengalaman Islam yang di imajinasikan di dunia Arab, sebab disinilah dimulainya perkenalan antara Islam dan modernitas barat. Pembahasan tentang hal ini dikaitkan dengan etnologi, yaitu studi tentang bangsa-bangsa lain, terutama dunia timur dan teknik dan data-data penulisan kebudayaan bangsa lain yang disebut etnografi. Melalui etnologi dan etnografi inilah bangsa barat meracik kebudayaan sehingga tampil sebagai kontrol dan pengawasan. Dari sinilah gagasan-gagasan liberal lahir dan berkembang dalam dunia Islam terutama di dunia timur.
Agama kolonial adalah adalah agama yang ditafsirkan oleh kaum intelektual dengan semangat non agama tetapi semangat sebagai agen, khususnya dalam cara berpikir. Semangat agen inilah yang dianalisis oleh Ahmad Baso , sebab dalam perkembangan selanjutnya agama kolonial melahirkan kebijakan yang tidak memihak pada rakyat namun justru menjadi kepanjangan tangan penguasa. Lahirnya berbagai kebijakan dan produk hukum yang mengatasnamakan agama dalam kehidupan bermasyarakat era pascakolonial merupakan hasil nyata dari upaya liberalisasi yang dilakukan kolonial. Seperti lahirnya UU perkawinan 1974 yang awalnya muncul dari rancangan yang dianggap sekuler tetapi kemudian berkembang menjadi sebuah mistifikasi atau sakralisasi sebagai UU yang islami dan menjadi “hukumTuhan”.
Dengan teori poskolonial ini, Timur yang dulu diperlakukan sebagai objek (maf’ul), kini berbalik memperlakukan Barat sebagai objek (maf’ul). Timur menjadi subjek (fa’il) dan Barat menjadi objek. Dalam wacana kolonial, yang menjadi objek adalah penduduk terjajah atau pribumi. Sedangkan dalam wacana poskolonial atau dekolonisasi ini, yang menjadi objek justru Barat atau penjajah itu sendiri. Ini mengukuhkan, bahwa Baso adalah sosok penerus Edward W. Said yang dengan lantang mengkritisi Barat yang selama ini memperlakukan Timur sebagai objek.
Topik lain yang dibahas dalam buku ini diurai dalam bagian akhir yang membahas permasalahan suara-suara kaum pinggiran (subaltern) dan yang dipinggirkan dalam kolonialisme dan pascakolonialisme. Dalam konteks lebih mikro kaum subaltern tersebut diwakili oleh NU. Disini Ahmad Baso mempertegas oposisi NU yang kokoh menolak liberalisasi agama. Dengan melihat apa yang terjadi dalam muktamar NU ke-31 di Solo pada 28 Nopember hingga 2 Desember 2004 lalu yang menolak pendekatan hermeneutika dalam sidang komisi pembahasan masalah-masalah keagamaan tematik (masa’il diniyyah maudhu’iyyah).
Di arena muktamar NU itu, hermeneutika dianggap sebagai sesuatu yang muncul tidak netral: ia (di)hadir(kan) dalam konteks kecurigaan pada kelompok “Islam Liberal”. NU menolak tradisi ditempatkan sebagai objek (yang dibedah) sementara hermeneutika dijadikan sebagai subjek (yang membedah). Artinya, NU kini berbalik memandang memposisikan hermeneutika sebagai objek. Dengan ditolaknya hermeneutika, dan juga Islam Liberal yang menyertainya, maka segenap pendekatan luar dengan sendirinya kandas, tidak berkutik dan gagal. NU memiliki logika sendiri untuk memandang diri (dan tradisi)nya dan mempunyai kekuatan untuk memandang di luar dirinya: Orang-orang NU bukanlah objek, tapi subjek!

 LATAR BELAKANG KEDATANG BELANDA, VOC DAN HINDIA BELANDA.
Selama hampir satu abad (abad ke-16) , bangsa portugis menguasai perdagangan antara Hindia Timur dan Eropa.
Pada waktu itu,jalur antara Hindia Timur dan Eropa telah beralih dari jalur pelayaran laut tengah ke jalur Tanjung Harapan. Baik melalui lautan atlantik perubahan jalur itu mengakibatkan bandar venesia dan genoa mulai sepi. Sebagai gantinya ,bandar lisabon,dan amsterdam muncul menjadi bandar dagang yang ramai.

Latar belakang kedatangan bangsa belanda ke Indonesia. Meletus perang 80 tahun antara belanda dan spanyol (1568-1648). Pada mulanya, perang ini bersifat agama, yaitu antara kaum Katolik(Spanyol)melawan Protestan(Belanda). Perang tersebut kemudian berkembang menjadi perang ekonomi dan politik. Philip II
dari spanyol memerintahkan kota lisabon tertutup bagi kapal –kapal Belanda pada tahun 1585. portugis mentaati perintah tersebut sebab portugal telah menduduki spanyol.
adanya petunjuk jalan ke Indonesia dari JAN HUYGEN VAN LINSCOTEN,mantan pelaut Belanda yang berkerja pada portugis dan pernah keIndonesia.

Cornelis de Houtman pertama kali para pelaut belanda berusaha sampai keIndonesia melewati jalur kutub utara untuk menghindari handangan armada spanyol dan portugis. Pimpinan Van neck itu mengalami kegagalan.
Kemudian, pada tahun 1595, berangkatlah 4 buah kapal di bawah pimpinan Cornelis de houtman pleter de kalzer menuju Indonesia melalui lautan atlantik. Mereka menyusuri pantai barat Afrika dan Sanapal di Tanjung Harapan Baik. Dari Tanjung Harapan Baik,mereka mengarungi lautan Hindia dan kemudian masuk ke Indonesia melalui selat Sunda. Mereka menghindari jalur selat Malaka karena Portugis menguasai malaka. Tibalah mereka di pelabuhan Banten. Ketika itu, banten merupakan pusat perdagangan lada putih. Karena terlalu kasar tindakannya semena-mena , para pelaut kurang mendapat sambutan di banten. Dari banten , mereka bermaksud mencapai Maluku untuk memperoleh rempah –rempah akan tetapi gagal dan terpaksa kembali ke Belanda.
Berdirinya Vereenigde Oost Indishe Compagnie(VOC) tahun 1602.
Pada 20 maret 1602 belanda mendirikan kongsi dagang yang bernama Vereenigde Oost compagnie atau VOC atau juga Persekutuan Perusahaan Hindia Timur. Tujuannya didirikan VOC yaitu :
1. Menghilangkan persaingan yang akan merugikan para pedagang Belanda.
2. Menyatukan tenaga untuk menghadapi saingan dari bangsa Portugis dan pedagang –pedagang lainya di Indonesia.
3. Mencari keuntungan yang sebesar –besarnya untuk membiyai perang melawan Spanyol.
Adapun hak-hak VOC yang diberikan parlemen belanda adalah :
a. Hak monopoli
b. Hak memiliki angkatan perang ,berperang ,mendirikan benteng dan menjajah
c. Hak mengadakan perjanjian dengan raja atau penguasa setempat atas nama pemerintah Belanda
d. Hak mencetak dan mengedarkan uang
Reaksi Rakyat Terhadap Monopoli Perdagangan Bangsa Belanda di Indonesia.
Kerajaan mataram mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan sultan agung (1613-1645) yang bercita-cita merebut Batavia (Jayakarta dan Sunda Kelapa )dan mengusir orang –orang belanda dari bumi Indonesia. Untuk mencapai tujuannya Sultan Agung melakukan 2 kali serangan besar –besaran terhadap kantor dagang VOC.
Serangan pertama yang di lakukan Mataram terjadi pada tahun 1628. yang di tunjukan di kantor dagang di Jepara .
Namun ,usaha serangan ini di ketahui oleh Jan Pieter ZoonCoen,Gubernur VOC yang ditempatkan di batavia . Pasukan ke-2 langsung di kirim di bawah pimpinan tumenggung Suro Agul-agul yang di bantu oleh Kyai Dipati Mandurejo.

 PENETRASI POLITIK ISLAM HINDIA BELANDA.
Bangsa Indonesia (baca: umat Islam)sejak abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-20 berada di bawah kekuasaan imperialisme Barat (Belanda yang paling lama) yang menguasai segala aspek kehidupan dan mencoba melumpuhkan kekuatan. Sejak zaman VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) masa awal penjajahan Belanda, berganti ke zaman Cultuur Stelsel (tanam paksa) terus ke periode Etische Politiek (polotik etis), hingga zaman Volksraad (Dewan Rakyat) tempat berbagai diplomasi politik ber-kembang, dan berakhir pada zaman Exorbitante Rechten (hak luar biasa di tangan Gubernur Jenderal), kekayaan dan kemakmuran bangsa Indonesia dihisap oleh penjajah Belanda. Kemerdekaan berpikir dan bertindak dirampas oleh kekuatan politik kolonial. Akibat dari lima periode penjajahan Belanda tersebut bangsa Indonesia menanggung penderi-taan yang tiada tara. Umat Islam pun bangkit menentangnya. Umat Islam menjadi barisan terdepan dalam menghadapi penjajahan Belanda, karena Islam pada dasarnya anti imperialisme dalam segala bentuk dam manifestasinya. Sebut saja Sultan Hasanudin, Sulta Ageng Tirtayasa, Imam Bonjol, Pengeran Dipenogoro, Teuku Umar, Tjut Nyak Dien, dan masih banyak pemimpin-pemimpin Islam lainnya, mereka bangkit mengobarkan perlawanan untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan.
Pemerintah Belanda pun memahami, jika kesadaran persatuan umat Islam yang bersumber kepada ajaran tergalang, maka bahaya dan bencana besar bagi kekuatan kolonial Belanda akan mengancam. Pada akhirnya mereka pun menggunakan politik devide et impera; memecah belah untuk kemudian menguasai.
Kesadaran akan pentingnya persatuan umat Islam dalam menentang penjajahan kolonial Belanda dalam bentuk organisasi baru terwujud dan berkembang pada awal abad ke-20. Masa akhir penjajahan Belanda, memberikan gambaran tentang pertumbuhan pergerakan keIslaman di Indonesia. Pada masa permulaan abad 20, ketika rasa nasionalisme modern masih baru tumbuh, kata “Islam” merupakan kata pemersatu bagi bangsa Indonesia yang berhadapan bukan saja dengan pihak Belanda tapi juga dengan orang-orang Cina. Lihatlah sebab berdirinya Syarekat Islam (1912) di Solo yang berdasarkan atas hubungan spiritual agama sekaligus sebagai front untuk:
1. Melawan semua penghinaan dan penindasan terhadap rakyat Bumi Putera;
2. Reaksi terhadap rencana krestenings politiek dari Gubernur Jenderal Idenburg dengan dukungan kaum Zending;
3. Perlawanan terhadap kecurangan dan penindasan dari kaum ambtenar Bumi Putera; dan
4. Perlawanan terhadap permainan dan kecurangan praktik dagang orang-orang Cina.
Kesemuanya itu merupakan reaksi ter-hadap bentuk penindasan dan kesombongan rasial dengan Islam sebagai alat pemer-satu untuk melawannya.
Persoalan kemudian yang muncul ke permukaan pada permulaan abad 20 adalah tampilnya berbagai organisasi Islam yang di satu pihak memberikan pembaru-an ke dalam pola pemikiran Islam dengan melakukan pemurnian aqidah dari unsur-unsur pra Islam, dan di lain pihak, melahirkan kelompok yang berpegang teguh pada paham dan anggapan lama serta madzhab yang dianutnya.
Kelompok pertama yang membawa arus gerakan pembaruan mendirikan oraganisasi-organisasi untuk menggalang umat Islam dan mendidik mereka agar sejalan dengan tuntutan masa. Di antaranya dengan mendirikan Lembaga Pendidikan (Pesantren) yang memasukkan berbagai mata pelajaran non agama ke dalam kurikulumnya. Organisasi-organisasi pembaru itu antara lain Muhammadiyah yang didirikan tahun 1912 di Yogyakarta, Al-Irsyad yang berdiri di Jakarta tahun 1914, Persatuan Islam (Persis) di Bandung pada tahun 1923, dan berbagai organisasi lain yang sejenis.
Sementara kelompok kedua, untuk mempertahankan diri dari paham pembaru dan mempertahankan praktik bermadzhab dari ancaman kaum Wahabi, maka golongan tradisional Islam ini, khususnya di Jawa, memperkuat diri dengan mendirikan organisasi Nahdlatul Oelama (kebangkitan para ulama) pada tahun 1926. Nahdlatul Oelama (NU) kemudian menjadi tempat berhimpun bagi kalangan mereka yang bermadzhab.
Perkembangan selanjutnya, perbedaan-perbedaan yang semula timbul di kalangan koelompok modernis dan tradisionalis -yang lebih merupakan perbedaan-perbedaan dalam masalah furu’ (cabang) dan bukan dalam masalah ushul (pokok)- mulai dapat menimbulkan saling pengertian. Persatuan di antara umat Islam pun semakin terasa di kala berhadapan dengan kekuatan politik yang meng-hambatnya.
Lihat saja ketika tahun 1935 berdiri Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) tempat berhimpunnya berbagai organisasi Islam yang telah banyak bermunculan pada awal abad ke-20 guna merespon perilaku politik pemerintah kolonial. Pertemuan-pertemuan antar Ulama dari berbagai organisasi menjadi dialog kerjasama untuk memecahkan masalah bersama; lepas dari penjajahan.
Demikian pula, hubungan antara organisasi-organisasi Islam dan kalangan nasionalis yang netral agama dan berbeda pandangan sejak pertengahan tahun 1920-an hingga permulaan tahun 1930-an, mulai membaik dengan adanya GAPI (Gabungan Politik Indonesia) yang didirikan tahu 1939, serta Majelis Rakyat Indonesia (MRI) yang didirikan pada tahun 1941. Dimana MRI merupakan pertemuan antara GAPI, MIAI, dan Persatuan Vakbonden Pegawai Negeri (federasi pekerja dalam jawatan pemerintahan). Salah satu contoh dari hubungan yang membaik itu dapat dilihat dari dukungan umat Islam terhadap memorandum tuntutan Indonesia berparlemen pada tahun 1939 yang disokong sepenuhnya oleh golongan nasionalis, termasuk kalangan Islam, demikian pula tentang perubahan konstitusi Indonesia yang dituntut oleh pergerakan nasional pada tahun 1941.

 ISLAM DI ZAMAN KOLONIAL JEPANG
Masa selanjutnya, ketika Jepang menjajah bangsa Indonesia, kolonial baru tersebut berusaha menerapkan pola “Nipponisasi” terhadap bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Bangsa Jepang memerintahkan rakyat Indonesia, termasuk para ulamanya, melakukan saikerei (memberi hormat dengan cara membungkukkan badan ke arah matahari terbit). Cara penghormatan yang hampir sama dengan ruku ini membuat marah kalangan umat Islam. Selain itu, umat Islam tidak dapat menerima kepercayaan Jepang yang meyakini bahwa mereka bangsa terpilih di dunia dan bahwa kaisar mereka merupakan turunan dewa. Menurut kalangan Islam anggapan seperti itu jelas menjurus ke arah kemusyrikan.
Kesalahan yang dapat menyinggung perasaan umat Islam itu berusaha dihapus oleh pihak Jepang; mereka berusaha menarik kaum muslimin dan meng-angkatnya dengan cara memberikan kebebasan bergerak dalam organisasi Islam dengan mendirikan kembali MIAI pada 5 September 1942, dan kemudian berubah menjadi Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).
Cara lain yang ditempuh oleh pihak Jepang untuk menarik simpati kaum Muslimin, yang di kemudian hari mem-berikan keuntungan bagi bangsa Indonesia adalah diselenggarakannya latihan-latihan kemiliteran bagi para santri, ulama, dan umumnya umat Islam.
Latihan kemiliteran itu lamanya satu bulan berturut-turut mulai pertengahan tahun 1943 dan diikuti oleh sekitar 60 orang ulama dari berbagai kabupaten di Jawa. Kemudian suatu latihan yang lamanya tiga bulan diadakan untuk 80 orang guru agama dalam tahun 1944. Pada latihan-latihan ini, para peserta diajari berbagai ilmu pengetahuan umum, semangat dan kepercayaan Jepang, metode mengajar, olah raga militer, serta baris-berbaris.
Latihan-latihan itu menurut Deliar Noer (1987) memberikan hasil, di antara-nya pertama, para ulama dan para santri memperoleh kesempatan untuk bertemu dengan rekannya yang lain, di tempat ataupun di dalam perjalanan selama latihan, yang memberikan kesempatan untuk bertukar pikiran. Kedua, mereka ditantang oleh pikiran dan pendapat yang selama ini kurang mendapat perhatian. Misalnya isi semangat dan kepercayaan Jepang. Dengan cara berdiskusi antar-sesama ulama atau santri di tempat latihan, mereka dapat membandingkan antara Islam dan kepercayaan Jepang; bahwa Islam lebih mulia dari keyakinan apa pun, termasuk keyakinan yang dianut oleh Jepang.
Latihan-latihan kemiliteran yang diselenggarakan oleh Jepang bagi para santri dan ulama, nantinya akan me-numbuhkan semangat juang yang tinggi dan berguna dalam menghadapi perang kemerdekaan; Revolusi Fisik 1945-1949. Pada masa Jepang inilah, umat Islam mendirikan laskar perjuangan Hizbullah pada 1944, yang dalam Revolusi Fisik, laskar ini turut ambil bagian memper-tahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Di samping itu, sebagian besar para pemuda muslim banyak yang tergabung dalam barisan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang telah didirikan pada bulan Oktober 1943.
Selain itu, perlawanan fisik juga dilaku-kan oleh umat Islam terhadap Jepang yang melakukan penindasan. Romusha atau kerja paksa yang diterapkan bagi rakyat Indonesia telah mengundang kemarahan, di samping paksaan ideologi “nipponisasi”. Reaksinya adalah bentrokan senjata di berbagai tempat, sebut saja misalnya perlawanan umat Islam Tasikmalaya (Jawa Barat) yang dipimpin KH. Zaenal Mustafa.
Pada akhirnya, usaha Jepang untuk menarik umat Islam ke dalam pangkuan-nya ternyata tidak membuahkan hasil. Tapi justru sebaliknya, umat Islam memperoleh keuntungan dari berbagai latihan pada masa Jepang. W.F. Wertheim mengemu-kakan bahwa matahari terbit (baca: Jepang) sia-sia mencoba menarik bulan sabit (baca: umat Islam) untuk menetap di dalam orbitnya. Bulan sabit terlalu besar untuk menjadi satelit yang tidak berbahaya bagi siapa pun, bulan sabit tidak mungkin dan tidak akan hanya jadi sekedar sebuah sputnik.
Dan, perkembangan berikutnya adalah suatu dinamika, dimana umat Islam terkadang tampil dalam posisi yang meng-untungkan, dan terkadang pula terpental darinya. Sekarang, dalam nuansa keter-bukaan, diharapkan umat Islam tampil memegang kendali, seirama dengan gerak langkah pembangunan. Insya Allah, umat Islam dapat meraih kunci keberhasilan dalam lingkaran mardlatillah. Wallahu a’lam. (Ar risalah)
Kesimpulan
Kemerdekaan Republik Indonesia tak lepas dari kiprah umat Islam yang seperti kita ketahui bersama peranan mereka begitu besar. Mulai dari perlawanan terhadap penjajahan Belanda yang menganut ajaran liberal, dalam aktivitasnya berupaya untuk meliberalkan berbagai lini kehidupan termasuk dalam hal beragama. Agama yang dibawa dan diperkenalkan oleh kolonialisme adalah agama yang tunduk pada kekuasaan dan menjadi kepanjangan tangan penguasa serta bisa menjaga kondusifitas pemerintah kolonial.
Begitu juga dengan perlawanan terhadap Jepang untuk menarik simpati kaum Muslimin, yang sudah terlanjur berbuat kesalahan terhadap pengajaran kepercayaan Agama terhadap Orang pribumi yang beragama Islam. Yang di kemudian hari mem-berikan keuntungan bagi bangsa Indonesia adalah diselenggarakannya latihan-latihan kemiliteran bagi para santri, ulama, dan umumnya umat Islam.
Latihan kemiliteran itu lamanya satu bulan berturut-turut mulai pertengahan tahun 1943 dan diikuti oleh sekitar 60 orang ulama dari berbagai kabupaten di Jawa. Kemudian suatu latihan yang lamanya tiga bulan diadakan untuk 80 orang guru agama dalam tahun 1944. Pada latihan-latihan ini, para peserta diajari berbagai ilmu pengetahuan umum, semangat dan kepercayaan Jepang, metode mengajar, olah raga militer, serta baris-berbaris.
Dengan mengetahui perjalanan sejarah mudah-mudahan kita tidak terjatuh pada lubang yang sama dalam artian sejarah buruk yang terjadi pada bangsa kita pada masa lalu jangan kita jadikan sebagai penghalang bagi kita serta generasi Islam untuk maju kearah yang positif. Hanya satu cara kita bisa memperbaiki sejarah kelam bangsa kita Indonesia yaitu terus Belajar dimanapun kita berada dalam berbagai macam disiplin ilmu.
Akhirnya pemakalah berpesan jangan berikan kesempatan kepada anak-anak kita untuk menikmati harta yang berlebihan sejak kecil tapi berikanlah kesempatan kepada anak-anak kita menikmati lezatnya Ilmu pengetahun sejak dini. Agar mereka aman sejahtera selalu dengan Ilmu yang mereka miliki. Kata Nabi ” Ilmu menjaga Engkau sedangkan Harta engkau yang menjaganya”. So, choose what do you like! Wassalam..


















Daftar Pustaka
http://www.pmii-ciputat.or.id/sosial-politik/135-komunalisme-dan-kebangkitan-politik-islam-nusantara.html
Abdullah, Taufik. Ed. Agama dan Perubahan Sosial, Jakarta : CV. Rajawali, 1983
Arifin, HM., Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2003
Drajat, Zakiah, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 1996
Gunawan, Ary H, Sosiologi Pendidikan, Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2000
Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2001, cet. 4
Ibrahim, M, et.al., Sejarah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, Jakarta : CV. Tumaritis, 1991, cet 2
Mustofa.A, aly, Abdullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Untuk Fakultas Tarbiyah, Bandung : CV. Pustaka Setia, 1999
Purwanto, M. Ngalim, Ilmu Pendidikan Teoritis, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,1992

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar